MANAQIB SYEKH MUHAMMAD MUHADJIRIN AMSAR ADDARY

Nama Lengkap            : Muhammad Muhadjirin Amsar Addary

TTL                             : Jakarta (Kampung Baru Cakung), 10 November 1924

Wafat                          : Bekasi, Jum’at malam sekitar pukul 19.30, 31 Januari 2003

Nama Ayah                 : H. Amsar bin Fiin bin Fulan

Nama Ibu                    : Hj. Zuhriah binti Syafii bin Jirin bin Gendot bin Fulan

Istri                              : Hj. Hannah binti Abdurrahman bin Shodri bin Usman bin Arlan

Anak-anak                   : 1. Hj. Faiqoh Muhadjirin

                                      2. H.Muhammad Ihsan Muhadjirin

                                      3. H. Ahmad Zufar Muhadjirin (Almarhum)

                                      4. Hj. Badi’ah Muhadjirin

                                      5. Hj. Farhah Muhadjirin

                                      6. Hj. Rufaida Muhadjirin

                                      7. H.Dhiya Al Maqdisi Muhadjirin

                                      8. H.Muhammad Aiz Muhadjirin

Perjalanan masa belajar Syekh Muhammad Muhadjirin setidaknya terdapat 2 periode besar  masa belajar, yakni

1. Periode belajar di Jakarta

2. Periode belajar di Mekkah dan Madinah

Pada periode pertama, yakni semasa di Jakarta, Syekh Muhammad Muhadjirin menimba berbagai macam ilmu agama, seperti ilmu al Qur’an, ilmu alat dan ilmu lainnya dari beberapa ulama besar yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ulama-ulama tersebut diantaranya adalah :

1. Guru Asmat. Kitab yang dipelajari diantaranya adalah nahwu dan shorof.

2. H.Mukhayyar. Kitab yang dipelajari adalah Al Qur’an dan ilmu tajwidnya.

3. H. Ahmad. Kitab yang dipelajari diantaranya adalah Mawahib Asshomad.

4. KH. Hasbiallah Klender. Kitab yang dipelajari antara lain adalah Jawhar Al Maknun

5. H. Rahmat. Kitab yang dipelajari antara lain adalah Assyaqowi ’ala Tahrir.

6. KH. Ahmad Mursyidi. Kitab yang dipelajari antara lain adalah Idhohul Mubham.

7. H. Hasan Murtaha. Kitab yang dipelajari antara lain adalah ’Uqudul Juman.

8. Syekh Muhammad Thohir. Beliau merupakan guru yang terlama bagi Syekh Muhammad Muhadjirin, yakni selama 9 tahun. Kitab yang dibaca antara lain adalah Asymuni ’ala Alfiah.

9. H. Ahmad bin Muhammad, salah seorang murid Guru Mansyur Falaky. Ilmu yang dipelajari  adalah ilmu tentang gerhana matahari dan gerhana bulan.

10. KH. Sholeh Makmun Banten. Ilmu yang dipelajari adalah tatacara membaca al Qur’an.

11. Syekh Abdul Majid. Kitab yang dipelajari antara lain adalah Fathul Wahab.

12. Sayyid  Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Kitab yang dipelajari adalah Al Hikam. 

Periode kedua, dimulai pada tanggal 4 Dzul Qo’dah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan Agustus tahun 1947 Masehi, Syekh Muhammad Muhadjirin berangkat menuju Jeddah dari Indonesia dengan menggunakan kapal laut guna mewujudkan cita-cita yang telah lama ia pendam untuk dapat menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah. Syekh Muhammad Muhadjirin tiba    di Jeddah pada akhir bulan Dzul Qo’dah dan pada tengah malam di bulan Dzul Hijjah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan September 1947 beliau tiba di tanah suci Mekkah. Pada kesempatan tersebut Syekh Muhammad Muhadjirin menunaikan ibadah haji yang pertama.

Ditengah himpitan bekal yang semakin menipis, Syekh Muhammad Muhadjirin membulatkan tekad awalnya untuk dapat menimba di ilmu di kota Mekkah maupun di kota Madinah.

Rumah yang pertama kali disinggahi oleh Syekh Muhammad Muhadjirin adalah  kediaman Syekh Abdul Ghoni Jamal. Melalui Syekh Abdul Ghoni Jamal, Syekh Muhammad Muhadjirin mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Setelah beberapa lama tinggal di kediaman Syekh Abdul Ghoni Jamal, di sekitar pertengahan tahun 1337 Hijriyah, Syekh Muhammad Muhadjirin memutuskan untuk pindah ke asrama Jailani  yang terletak di sisi dalam “Mudda’i”. Saat tinggal di asrama “Jailani” tersebut, Syekh Muhammad Muhadjirin belajar kepada beberapa ulama besar dikotaMekkah, diantara yaitu :

1. Syaikh Muhammad Ahyad yang menggantikan  Syaikh Muchtar Atthorid Al Jawi di Masjid Al Haram. Salah satu kitab yang dibaca adalah Fathul Wahab.

2. Syaikh Hasan Muhammad Al Masyath di Masjidil Haram. Salah satu kitab yang dibaca adalah Shohih Muslim dan Shohih Bukhori.

3. Syaikh Zaini Bawean di kediamannya. Kitab yang dibaca adalah Ihya ‘Ulumuddin.

4. Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Maliki di kediamannya. Kitab yang dibaca adalah Tuhfah.

5. Syaikh Mukhtar Ampetan di kediamannya. Kitab yang dibaca antara lain adalah al Itqon fi ’ulumil qur’an.

6. Syaikh Muhammad Al ‘Arobi Attubbani Al Sutoyfi Al Jazairi. Kitab yang dibaca antara lain adalah Tafsir Ibnu Katsir.

7. Syaikh Said ‘Alawi Abbas Al Maliki di kediamannya. Kitab yang dibaca antara lain adalah Mughni labib.

8. Syaikh Ibrohim Fathoni. di Masjidil Haram. Kitab yang dibaca adalah Tafsir Jalalain.

9. Syaikh Muhammad Amin Al Kutbi di Masjidil Haram. Kitab yang dibaca adalah Fiqh al Hanafi.

10. Syaikh Ismail Fathoni di kediamannya. Kitab yang dibaca antara lain adalah Hasyiah Ibn Aqil ‘ala Alfiah.

Lebih kurang 2 tahun Syekh Muhammad Muhadjirin  belajar kepada sepuluh ulama besar tersebut.

Sekitar bulan Muharram tahun 1369 Hijriyah atau bertepatan dengan bulan Juli 1950, Syekh Muhammad Muhadjirin masuk ke Darul Ulum Addiniyah yang dipimpin oleh Syaikh Ahmad Mansyuri  dan Syaikh Muhammad Yasin sebagai wakilnya. Lebih dari 2 tahun Syekh Muhammad Muhadjirin belajar berbagai macam ilmu agama dari 2 ulama besar tersebut.

 

Akhirnya, di penghujung bulan Zul Qoidah tahun 1370 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1951, Syekh Muhammad Muhadjirin berhasil menyelesaikan pendidikan di Darul Ulum Addiniyah setelah melewati ujian yang begitu sulit. Pada saat itu, dengan rahmat Allah SWT, Syekh Muhammad Muhadjirin  berhasil meraih nilai “Jayyid” dan berada pada posisi teratas diantara teman-teman seangkatan nya . Kemudian tidak lama berselang, tepatnya di bulan Muharram tahun 1371 Hijriyah  Syekh Muhammad Muhadjirin  diminta untuk mengajar di sekolah tersebut

Ulama-ulama yang berada di kota Madinah tidak terlepas dari perhatian Syekh Muhammad Muhadjirin untuk menimba ilmu agama. Di antara ulama-ulama yang menjadi guru Syekh Muhammad Muhadjirin adalah :

1. Syaikh Muhammad Amin Alsingiti,

2. Syaikh Abdul Rahman Alafriqy,

Setelah lebih dari 8 tahun menuntut ilmu di kota Mekkah dan Madinah, akhirnya Syekh Muhammad Muhadjirin memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air. Bertepatan dengan hari Kamis tanggal 6 Agustus 1955 / 19 Shafar 1375 H. Syekh Muhammad Muhadjirin tiba di tanah air. Satu hal yang sangat disyukuri oleh Syekh Muhammad Muhadjirin adalah masih diberikannya kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, dan terlebih khusus sang ibu, yakni Hj Zuhriah yang telah begitu merindukannya. 

FALAK RU’YAH HILAL

SYEIKH MUHAMMAD MUHADJIRIN AMSAR ADDARY

 

Mukaddimah

Ilmu Falak sebagai sebuah cabang disiplin ilmu agama sejak berabad-abad lalu telah memiliki tempat yang khusus di hati sebagian umat Islam. Hal ini disebabkan karena Ilmu Falak sangat berperan dalam menentukan kapan mulainya suatu ibadah.

Begitu pentingnya Ilmu Falak sehingga berkembang begitu pesat dengan memunculkan berbagai macam metodologi yang saling mendukung dan melengkapi. Ilmu Falak saat ini tidak hanya “milik” umat Islam saja namun telah menjadi pusat perhatian seluruh umat beragama. Hal ini dikarenakan begitu pentingnya kedudukan dan manfaat ilmu tersebut.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa secara garis besar Ilmu Falak terbagi atas dua metodologi utama, yakni berdasarkan hisab dan ru’yah. Kedua metodologi tersebut sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu telah menjadi kekuatan yang sangat dahsyat di bidang keilmuan karena telah diikuti atau diyakini oleh jutaan manusia. Meskipun demikian secara prinsip kedua metodologi tersebut (hisab dan ru’yah) tidak dapat dikatakan bertentangan namun justru saling melengkapi.

Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary merupakan salah satu sosok ulama Betawi yang memiliki perhatian terhadap keberadaan Ilmu Falak , baik metodologi hisab maupun ru’yah.

 

 Pendidikan Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary

Secara umum beliau belajar dari berpuluh-puluh guru dengan berbagai disiplin ilmu, baik semasa di Indonesia maupun ketika berada di Mekkah (tersusun dalam lampiran khusus).

Pendidikan formal : Daarul ‘Ulum  Mekkah

Adapun guru-guru beliau dalam Ilmu Falak ialah :

  1. Guru Muhammad Manshur bin Abdul Hamid
  2. Salah satu murid Guru Muhammad Manshur bin Abdul Hamid (yang kami tidak ketahui namanya)
  3. Guru Abdul Majid
  4. Syeikh Muhammad Yasin Al Falaki
  5. Beberapa ulama di tanah suci Mekkah yang tidak disebutkan namanya .

Kitab-kitab Ilmu Falak yang dipelajari antara lain ialah :

  1. Matan Washilah Al Thullab
  2. Risalah Rub’ul Mujayyab
  3. Risalah Mulakhos
  4. Sulam Al Niroin
  5. Ijtima dan Gerhana

Perjalanan Pelaksanaan Ru’yah Dari Waktu ke Waktu

  1. Pelaksanaan ru’yah di Cakung dimulai sejak tahun 1936 yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Muhadjirin. Mulai tahun 1947 pelaksanaan ru’yah diteruskan oleh murid-murid beliau yang tidak lain merupakan adik-adik sepupu, yaitu KH.Abdul Hamid, KH.Abdul Halim, KH. Abdullah Azhari, KH. Abdul Salam.Hal ini disebabkan Syeikh Muhammad Muhadjirin telah memutuskan untuk berdiam di Mekkah guna menuntut ilmu.
  2. Pada awalnya pelaksanaan ru’yah di Cakung hanya dilaksanakan sebanyak 6 kali setiap tahunnya, mulai bulan Rajab hingga Dzulhijjah. Namun apabila dianggap perlu pelaksanaan ru’yah pernah dilakukan setiap bulannya selama 7 tahun berturut-turut.
  3. Pada tahun 1950, penerus Syeikh Muhammad Muhadjirin, yakni KH. Abdul Hamid, KH.Abdullah Azhari , dan KH. Abdul Salam berhasil melihat hilal awal bulan Syawal dengan ketinggian 2 derajat. Hasil ru’yah tersebut disyahkan oleh Pengadilan Agama Bekasi untuk “diitsbat” setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap ke 3 peru’yah tersebut.
  4. Pada tahun 1958, KH. Abdul Hamid, KH.Abdul Halim, dan KH. Abdul Salam berhasil melihat hilal awal bulan Dzulhijjah pada ketinggian 2,25 derajat. Hasil ru’yah tersebut disyahkan oleh Pengadilan Agama Jawa Barat. Berdasarkan hal tersebut KH. Zuber memasukan kejadian tersebut ke dalam buku karangannya yang berjudul “Al Khulashah Al Wafiyah”.
  5. Pada tahun 1960, KH. Abdul Hamid dan kawan-kawan dengan disaksikan oleh KH. Hasbiallah dan KH. Sobri yang merupakan utusan dari Pengadilan Agama Jawa Barat serta KH. Asli Junaidi, berhasil melihat hilal dengan ketinggian 4 derajat. Pada saat itu terjadi kejadian yang  luar biasa, dimana terjadi perubahan cuaca yang sangat cepat dari mendung tiba-tiba menjadi terang sehingga ru’yah dapat dilakukan.
  6. Pada tahun 1991, delegasi ulama Malaysia yang terdiri dari ahli Fiqih dan ahli Hisab yang dipimpin oleh Prof. Dr.H. Abdul Hamid Abdul Majid berkunjung ke Indonesia untuk memperoleh penjelasan tentang pelaksanaan ru’yah hilal di Indonesia. Pengadilan Agama Bekasi memfasilitasi pertemuan antara delegasi Malaysia tersebut dengan ulama Jakarta Timur dan Bekasi, bertempat di Masjid Al Makmur, Klender. Menurut delegasi Malaysia tersebut, selama ini dalam menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha mereka selalu mengikuti Mekkah. Di Malaysia sendiri sebenarnya ada 28 lokasi ru’yah, namun baru berhasil 2 kali dengan ketinggian 8 derajat. Setelah berakhirnya pertemuan tersebut, pimpinan delegasi Malaysia tersebut menyatakan untuk mengikuti Indonesia dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal dan 10 Dzulhijjah. ( KH. Ma’ruf Amin : 1995, hal 76-78.)
  7. Dalam kitab Misbah Al Zhulam Syarah Bulugh Al Maram, karangan Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary, juz ke 3 halaman 187 dan 188 dikatakan bahwa : Hilal mungkin saja terlihat tanpa harus  mencapai ketinggian 7 derajat atau lebih. Hal ini pernah terjadi di Mekkah saat beliau berada di kota tersebut.
  8. Saat ini pelaksanaan ru’yah hilal masih terus berlanjut sesuai dengan pedoman serta petunjuk yang telah diajarkan oleh Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary. Diantara penerusnya adalah KH. Ahmad Syafi’I ,Lc putra KH. Abdul Hamid serta salah seorang koleganya yang bernama KH. Yazid. Saat ini mereka berdua tetap aktif melakukan ru’yah hilal serta membimbing murid-muridnya di Cakung Jakarta Timur.